Managemen Operasi dan Jasa-Jasa Bank Umum

MANAJEMEN OPERASI DAN JASA-JASA BANK UMUM DI INDONESIA

 

Oleh :

8335118318  Rizqi Amelia Pratiwi

8335118326                 Syifa Aulia

8335118330   Ruth Citra Permata

Program Studi S1 Akuntansi

Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Kelompok untuk memenuhi mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lain.

Dalam penulisan karya tulis  ini penulis membahas tentang “ Manajemen Operasi dan Jasa-Jasa Bank Umum di Indonesia” sesuai dengan tujuan instruksional khusus mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Program Studi S1 Akuntansi, Jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta.

Dengan menyelesaikan karya tulis ini ini, tidak jarang penulis menemui kesulitan. Namun penulis sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membaca yang sifatnya membangun untuk dijadikan bahan masukan guna penulisan yang akan datang sehingga menjadi lebih baik lagi. Semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1.         Ibu Etty Gurendrawati

2.         Ibu Nuramalia Hasanah

3.         Kedua orang tua yang telah memberikan dukungannya serta doanya

4.         Teman-teman S1 Akuntansi Non-Regular B ‘11 sebagai tempat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jakarta, Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………

Daftar Isi ……………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang …………………….……………………………………………

1.2. Rumusan Masalah ……………….………………………………………………

1.3. Tujuan Penulisan ………………………………………………………………

1.4. Manfaat Penulisan ……………………………………………………………

1.5. Metodologi Penelitian ………..…………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Fungsi dan Usaha Bank Umum …………………………………………………

2.2. Neraca Bank ……………………………………………………………………

2.3. Aktiva dan Pasiva ………………………………………………………………

2.4. Dasar Operasi Bank ……………………………………………………………

2.5. Tingkat Kesehatan Bank ………………………………………………………

2.6. Penghimpunan Dana ……………………………………………………………

2.7. Penyaluran Dana ……………………………………………………………….

2.8. Jasa-Jasa Bank Umum …………………………………………………………..

2.9. Kredit Bank ……………………………………………………………………..

BAB III PENUTUP

3.1. Simpulan ………………………………………..………………………………

3.2. Saran ……………………………………….……………………………………

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………

2

3

4

4

5

5

5

6

7

8

12

13

19

24

26

31

38

38

39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Menabung merupakan aktifitas yang dilakukan oleh manusia  sebagai upaya untuk menyimpan uangnya agar aman. Zaman dahulu manusia menabung di bawah bantal, di bawah kasur, ataupun diletakkan di salah satu sudut bagian rumah. Perkembangan peradaban manusia membawa jalan pikiran manusia untuk membuat aktivitas menabung berpindah tempat tidak lagi hanya di lingkungan rumah, namun telah berpindah ke sebuah lembaga yang di anggap berpotensi untuk menjaga uangnya agar aman. Lembaga tersebut biasa dikenal oleh masyarakat sekarang ini dengan sebutan BANK.

Awalnya bank hanya berperan sebagai tempat menyimpan uang agar aman dari pencurian ataupun terjadinya musibah baik alam maupun karena ulah tangan manusia yang tidak dapat diprediksa kehadirannya. Sebagai tempat menabung. Bank juga berfungsi sebagai tempat meminjam untuk modal usaha ataupun untuk memenuhi kebutuhan konsumtif manusia seperti rumah dan  kendaraan bermotor. Bank juga berperan sebagai tempat investasi masa depan bagi nasabahnya.

Mengingat banyak nya kegiatan operasional, dan jasa pelayanan yang dilakukan oleh bank untuk masyarakat, maka perlu permahaman yang mendalam tentang kegiatan utama bank. Kegiatan utama bank umum adalah menghimpun dan menyalurkan dana dari dan bagi masyarakat. Namun di balik kedua kegiatan utama tersebut masih sangat banyak aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kegiatan manajemen perbankan, dan aspek-aspek itu lah yang akan dibahas dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan Tujuan Instuksi Khusus mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lain, masalah yang dibahas adalah mengenai Manajemen Bank serta Jasa-jasa dan Pelayanan Bank. Dengan pokok bahasan lebih spesifik yaitu:

  • Mengenai operasional bank
  • Pengertian dana bank dan sumber-sumber dana bank, dan penempatan dana bank
  • Jasa-jasa dan Pelayanan Bank

Dari pokok bahasan tersebut, terbagi lagi dalam beberapa subpokok bahasan yang dibahas dalam makalah ini, yaitu : Fungsi dan Usaha Bank Umum, Neraca Bank, Aktiva dan Pasiva, Dasar Operasi Bank, Tingkat Kesehatan Bank, Penghimpunan Dana, Penyaluran Dana, Kliring, dan Kredit Bank.

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini di bagi menjadi 2 yaitu, tujuan umum dan khusus:

1.3.1. Tujuan Umum

1.         Menjelaskan pengertian jasa-jasa dan pelayanan bank

2.         Menjelaskan Operasi dan Manajemen Bank

3.         Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah

1.3.2 Tujuan Khusus

Memenuhi tugas mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lain tentang Manajeman, Jasa, dan Pelayanan Bank.

1.4. Manfaat Penulisan

1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa.

2. Sebagai wacana awal bagi penyusunan karya tulis selanjutnya.

3. Sebagai literature untuk lebih memahami kegiatan perbankan.

1.5. Metodologi Penelitian

Dalam penulisan Karya Tulis ini, metodologi penelitian yang digunakan adalah :

•          Studi pustaka yaitu dengan mencari referensi dari buku-buku yang berkaitan dengan penulisan karya tulis ini

•          Penjelajahan internet yaitu dengan mencari beberapa informasi di mesin pencari yang tidak penulis tidak dapatkan dari buku-buku

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Fungsi dan Usaha Bank Umum

Bank umum sebagai lembaga intermediasi keuangan memberikan jasa-jasa keuangan baik kepada unit surplus maupun kepada unit defisit. Bank melaksanakan beberapa tungsi dasar.

2.1.2.        Fungsi Pokok Bank Umum

Bank umum memiliki fungsi pokok sebagai berikut :

  1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi
  2. Menciptakan uang
  3. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat
  4. Menawarkan jasa-jasa keuangan lain.

2.1.3          Usaha Bank

Kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank umum menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah sebagai berikut:

a)      Menghimpun dana dari masyarakat

b)      Memberikan kredit

c)      Menerbitkan surat pengakuan hutang

d)      Membeli, menjual atau menjamin surat-surat atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:

1. surat-surat wesel termasuk wesel yang diaksep oleh bank

2. surat pengakuan utang

3. kertas perbendaharaan negara dan surat jamina pemerintah

4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

5. Obligasi

6. surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1(satu) tahun

7. instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun

e)      Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah

f)       Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel untuk, cek atau sarana lainnya

g)      Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antara pihak ketiga

h)      Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga

i)        Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak (cus­todian)

j)        Melakukan penempatan dana dari menambah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek

k)      Membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatya

l)        Melakukan kegiatan anjak piutang (factoring), kartu kredit dan kegiatan wali amanat (trusree) menyediakan pembiayaan dengan prinsip bagi basil

m)   Melakukan kegiatan lain misalnya kegiatan dalam valuta asing, melakukan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, dan asuransi; dan melakukan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit

n)      Kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang­undang.

2.2. Neraca Bank

Total Asset = Kewajiban + Modal

Neraca Bank merupakan persamaaan dari :

Neraca bank menggambarkan sumber-sumber dana dan penggunaan dana bank. Bank mendapat dana dengan cara menerima simpanan giro, tabungan, dan deposito berjangka, kemudian mengalokasikannya dengan memberi pinjaman atau membeli surat-surat berharga. Bank memperoleh pendapatan dari bunga kredit atau surat-surat berharga. Agar bank mendapat marjin, maka tingkat bunga kredit harus lebih tinggi dari biaya yang dibayarkan kepada pemilik dana. Penyaluran dana dalam bentuk kredit mendominasi asset bank. Sementara dana masyarakat merupakan sumber utama dana bank terutama dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito berjangka.

Sisi aktiva dalam neraca bank menggambarkan pola pengalokasian dana bank yang mencerminkan posisi kekayaan yang merupakan hasil penggunaan dana bank dalam berbagai bentuk. Penggunaan dana bank dilakukan berdasarkan prinsip prioritas. Disamping itu kegiatan pengalokasian dana tersebut hams memperhatikan ketentuan – ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral sebagai otoritas moneter yang mengatur dan mengawasi bank.

Sisi pasiva dalam neraca bank menggambarkan kewajiban bank yang berupa klaim pihak ketiga atau pihak lainnya atas kekayaan bank yang dinyatakan dalam bentuk rekening giro, tabungan, deposito berjangka dan instrument – instrument utang atau kewajiban bank lainnya. Selain itu modal bank menggambarkan nilai buku pemilik saham bank. Sisi pasiva mencerminkan kegiatan penghimpunan dana yang berasal dari berbagai sumber. Dana bank yang pada dasarnya berasal dari masyarakat atau pihak ketiga dan modal bank itu sendiri (ekuitas).

Contoh neraca bank umum:

POS AKTIVA

(%)

POS KEWAJIBAN DAN EKUITAS

(%)

Kas

Giro pada Bank Indonesia

Giro pada Bank Lain

Penempatan pada Bank Lain

Surat-surat Berharga

Kredit yang diberikan

Penyertaan

Biaya Dibayar dimuka

Aktiva Tetap

Aktiva Sewa guna usaha

Aktiva Lain-lain

0,5

4,0

04

13,9

3,8

70,0

3,7

0,8

1,3

0,2

1,2

Giro

Kewajiban Segera Lainnya

Tabungan

Deposito Berjangka

Sertifikat Deposito

Surat Berharga yang Diterbitkan

Pinjaman yang Diterima

Pinjaman Subordiasi

Kewajiban Lain

Ekuitas

7,8

15,2

8,4

44,6

10,3

-

6,4

-

0,8

6,5

JUMLAH

100

JUMLAH

100

2.3. Pengelolaan Aktiva dan Pasiva

2.3.1          Pengertian

Pengelolaan aktiva dan pasiva (kewajiban) suatu bank merupakan sesuatu yang tidak dapat berjalan  sendiri sendiri.Pengelolaan aktiva suatu bank selalu memerhatikan karakteristik dari penghimpun dana pada sisi pasiva, dan berlaku juga sebaliknya. Mengingat sangat kompleksnya pengelolaan aktiva dan pasiva suatu bank dan tentu saja melibatkan berbagai macam bagian dari suatu bank, kegiatan ini biasanya dilaksanakan oleh suatu badan di dalam bank yang terdiri dari wakil-wakil berbagai bagian dalam bank. Asset- Liability Committee (Alco) merupakan suatu bentuk komite ini berhadapan dengan permasalahan:

a)         Penghimpuan dana, yang mempertimbangkan aspek

  • Biaya administrative
  • Biaya bunga
  • Strategi/cara metode
  • Diversifikasi
  • Jangka waktu dan likuiditas
  •  Portofolio dan kaitannya dengan penggunaan dana

b)         Penggunaan dana, yang mempertimbangkan aspek

  • Likuiditas dan jangka waktu
  • Risiko
  • Rate of return
  • Biaya bunga
  • Diversifikasi
  • Portofolio dan kaitannya dengan penghimpunan dana

2.3.2. Pendekatan Dasar Pengelolaan Aktiva Pasiva

Pendekatan dalam pengelolaan aktiva dan pasiva suatu bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dasar. Pendekatan dasar ini bukan merupakan sesuatu yang kaku dalam penerapannya, melainkan dapat disesuaikan dengan perkembangan keadaan sektor perbankan dan perekonomian secara umum. Pendekatan yang dapat digunakan adalah

a)    Pool of Funds

Dana yang telah berhasil dihimpun bank mempunyai karakteristik yang beragam menurut jangka waktunya,biayanya, sumber dana tersebut berasal, dan lain-lain. Pendekatan pool of funds memperlakukan dana tersebut sebagai dana tunggal tanpa memperhitungkan sifat masing-masing komponen pembentuk dana. Dana tunggal itu kemudian dialokasikan untuk berbagai macam tujuan sesuai dengan strategi penggunaan dana. Di bawah ini adalah diagram pool of funds

 

Sumber Dana                                                                    Alokasi Dana

Deposito

Tabungan

Modal

Cadangan Sekunder

Kredit

Surat-surat Berharga

Aktiva Tetap

Pool

Of

Funds

Giro

Cadangan Primer

b)    Asset Allocation atau Conversion of Funds

Konsep dari pendekatan ini merupakan kebalikan  dari pendekatan  pool of funds. Perlakuan terhadap dana yang mempunyai karakteristik berbeda-beda sebagai dana tunggal dianggap oleh pendekatan ini sebagai asumsi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kenyataannya masing-masing sumber dana memiliki sifat tersendiri, sehingga pengalokasiannya harus secara individual dengan mempertimbangkan karakteristik  masing-masing sumber dana. Misalnya dalam hal jangka waktu dana dan likuiditasnya dana jangka pendek hendaknya digunakan juga dalam aktiva jangka pendek berupa alat-alat likuid. Dana jangka menengah dan panjang dapat digunakan dalam bentuk aktiva yang likuiditasnya lebih rendah.  Aktiva tetap hendaknya hanya berasal dari dari modal sendir. Dengan pendekatan ini diharapkan bank tidak akan mengalami kesulitan likuiditas di masa yang akan dating.  Pertimbangan jangka waktu ini  tentu saja tidak berdiri sendiri, pertimbangan tersebut juga dikombinasikan dengan pertimbangan lain seperti rate of return dan  biaya. Berikut ini adalah diagram Asset Allocation

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Dana                                                                                                     Alokasi Dana

Deposito

Tabungan

Modal

Cadangan Sekunder

Kredit

Surat-surat Berharga

Aktiva Tetap

Giro

Cadangan Primer

Perbandingan Kelebihan dan Kelemahan antara

Pool of Fund Approach dengan Assets Allocation Approach

Pool of Fund Approach Assets Allocation Approach
Kelebihan :

-Perhitungan biaya dana relative sederhana.

-Pengelolaannya tidak kompleks.Kelebihan :

-Mengalihkan penekanan likuiditas kepada profitabilitas.

-Jumlah rata-rata cadangan likuiditas mengalami penurunan sehingga alokasi dana dapat dialihkan lebih banyak pada penyaluran kredit dan penanaman modal dalam surat -surat berharga yang memiliki keuntungan lebih tinggi.Kelemahan :

-Tidak diberikan dasar untuk memperkirakan standar likuiditas.

-Tidak terdapat pertimbangan terhadap perubahan giro, deposito, tabungan dan sumber dana lainnya.

-Mengabaikan likuiditas yang berasal dari portofolio kredit melalui pembayaran cicilan dan bunga secara terus-menerus.

-Memperkecil peranan cadangan sekunder sebagai likuiditas.

-Mengabaikan kenyataan mengenai kemampuan bank untuk memperoleh laba dari operasinya.

-Mengabaikan peran interaksi aktiva dan pasiva dalam penyediaan likuiditas secara musiman.Kelemahan :

-Keputusan mengenai jumlah likuiditas dilakukan berdasarkan perkiraan atau perputaran simpanan.

-Bisa terjadi kelebihan likuiditas yang menyebabkan keuntungan menjadi berkurang.

-Portofolio kredit dianggap sama sekali tidak likuid sehingga kredit tidak dianggap sebagai sumber likuiditas yang potensial.

-Keputusan mengenai manajemen aktiva-pasiva dibuat secara independen.

2.4.  Dasar Operasi Bank

Operasi bank didasarkan pada suatu proses yang disebut sebagai transformasi asset dengan mempertimbangkan factor-faktor likuiditas, risiko, dan keuntungan. Transformasi asset adalah proses pengalihan dana yang dihimpun bank dari berbagai sumber, yang merupakan kewajiban bank, menjadi kekayaan (asset) berupa persyaratan kredit, pembelian surat-surat berharga, dan bentuk-bentuk asset lainnya.

Prinsip dasar operasional pada Bank Umum dapat digambarkan sebagai berikut:

2.5 Tingkat Kesehatan Bank

2.5.1          Pengertian

Kesehatan merupakan hal yang paling penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik bagi manusia maupun perusahaan. Kondisi yang sehat akan meningkatkan gairah kerja dan kemampuan kerja serta kemampuan lainnya. Sama seperti halnya manusia yang harus selalu menjaga kesehatannya, perbankan juga harus selalu dinilai kesehatannya agar tetap prima dalam melayani para nasabahnya. Bank yang tidak sehat, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, akan tetapi pihak lain. Penilaian kesehatan bank amat penting disebabkan karena bank mengelola dana dari maasyarakat yang dipercayakan kepada bank. Masyarakat pemilik dana dapat saja menarik dana yang dimilikinya setiap saat dan bank harus sanggup mengembalikan dana yang dipakainya jika ingin tetap dipercaya oleh nasabahnya.

Pengertian tentang kesehatan bank meliputi :

  1. Kemampuan menghimpun dana masyarakat dari lembaga lain dan dari modal sendiri
  2. Kemampuan mengolah dana
  3. Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat
  4. Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal dan pihak lain

2.5.2.        Aturan Kesehatan Perbankan

Berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. UU tersebut lebih lanjut menetapkan bahwa :

  • Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai ndengan ketentuan kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, solvabilitas & aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
  • Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank
  • Bank wajib menyampaikan kepada BI segala keterangan dan penjelasan mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh BI
  • Bank atas permintaan BI, wajib memberikan kesempatan bagi pemeriksaanbuku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya serta wajib memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank yang bersangkutan
  • Bank Indonesia melakukan pemeriksaaan terhadap bank, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan, BI dapat menugaskan akuntan publikuntuk dan atas nama bank Indonesia melaksanakan pemeriksaan terhadap bank.
  • Bank wajib menyampaikan kkca, perhitungan laba rugi tahunan dan penjelasannya, serta laporan berkala lainnya dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh BI. Neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan BI

2.5.3.        Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Berdasarkan Peraturan Gubernur Bank Indonesia Nomor 6/10/2004 Tahun 2004 mengenai tingkat kesehatan perbankan adalah hasil penilaian kualitatif atas beberapa aspek yang ebrpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian kualitatif maupun penilaian kuantitatifterhadap factor-faktor penilaian tingkat kesehatan bank.

  • Penilaian kuantitatif adalah penilaian terhadap posisi, perkembangan, dan proyeksi rasio-rasio keuangan bank.
  • Penilaian kualitatif berkaitan dengan peniaian terhadap factor-faktor yang mendukung hasil penilaian kuantitatif, penerapan manajemen resiko, dan kepatuhan bank.

Kesehatan atau kondisi keuangan dan non keuangan Bank merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, pengelola (manajemen) Bank, masyarakat pengguna jasa Bank, Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan Bank, dan pihak lainnya. Kondisi Bank tersebut dapat digunakan oleh pihak-pihak tersebut untuk mengevaluasi kinerja Bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan manajemen risiko.

Perkembangan industri perbankan, terutama produk dan jasa yang semakin kompleks dan beragam akan meningkatkan eksposur risiko yang dihadapi Bank. Perubahan eksposur risiko Bank dan penerapan manajemen risiko akan mempengaruhi profil risiko Bank yang selanjutnya berakibat pada kondisi Bank secara keseluruhan.

Perkembangan metodologi penilaian kondisi Bank senantiasa bersifat dinamis sehingga sistem penilaian tingkat kesehatan Bank harus diatur kembali agar lebih mencerminkan kondisi Bank saat ini dan di waktu yang akan datang. Pengaturan kembali tersebut antara lain meliputi penyempurnaan pendekatan penilaian (kualitatif dan kuantitatif) dan penambahan faktor penilaian.

Bagi perbankan, hasil akhir penilaian kondisi Bank tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang sedangkan bagi Bank Indonesia, antara lain digunakan sebagai sarana penetapan dan implementasi strategi pengawasan Bank. Agar pada waktu yang ditetapkan Bank dapat menerapkan sistem penilaian tingkat kesehatan Bank sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini, maka perbankan perlu melakukan langkah-langkah persiapan dalam menerapkan sistem tersebut.

2.5.4. Faktor Penilaian

Bank Indonesia dalam melakukan penilaian tingkat kesehatan bank menggunakan factor-faktor yang disebut CAMELS, sebagai berikut:

a)      Permodalan (capital)

b)      Kualitas asset (asset quality)

c)      Manajemen (management)

d)      Rentabililtas (earning)

e)      Likuditas (liquidity)

f)       Sensitivitas terhadap resiko pasar (sensitivity to market risk)

a. Permodalan (Capital)

Kekurangan modal merupakan gejala umum yang dialami bank-bank di negara-negara berkembang. Kekurangan modal tersebut dapat bersumber dari dua hal, yang pertama adalah karena modal yang jumlahnya kecil, yang kedua adalah kualitas modalnya yang buruk. Dengan demikian, pengawas bank harus yakin bahwa bank harus mempunyai modal yang cukup, baik jumlah maupun kualitasnya. Selain itu, para pemegang saham maupun pengurus bank harus benar-benar bertanggung jawab atas modal yang sudah ditanamkan.

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

1) kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dihitung dengan formula sebagai berikut :

CAR            =

Modal

Aktiva Tertimbang Menurut Resiko

2) Trend rasio KPMM dan atau presentasi pertumbuhan modal dibandingkan dengan presentasi pertumbuhan ATMR

Besar rasio        =

Trend ke depan

Proseksi ATMR

3) APYD adalah aktiva produktif, baik yang sudah maupun yang mengandung potensi tidak memberikan penghasilan atau menimbulkan kerugian. Bersarnya ditetapkan sebagai berikut:

  • 25% dari Aktiva Produktif, digolongkan sebagai Perhatian Khusus (Special Mention)
  • 50% dari Aktiva Produktif, digolongkan sebagai Kurang Lancar (Substandard)
  • 75% dari Aktiva Produktif, digolongkan sebagai Diragukan (Doubtful)
  • 100% dari Aktiva Produktif, digolongkan sebagai Macet (Loss)

4) Kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan (laba ditahan)

5) akses kepada sumber permodalan dan kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan Bank.

b. Kualitas Aset (Asset Quality)

Dalam kondisi normal sebagian besar aktiva suatu bank terdiri dari kredit dan aktiva lain yang dapat menghasilkan atau menjadi sumber pendapatan bagi bank, sehingga jenis aktiva tersebut sering disebut sebagai aktiva produktif. Dengan kata lain, aktiva produktif adalah penanaman dana Bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pembiayaan, piutang, surat berharga, penempatan, penyertaan modal, penyertaan modal sementara, komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administratif. Di dalam menganalisis suatu bank pada umumnya perhatian difokuskan pada kecukupan modal bank karena masalah solvensi memang penting. Namun demikian, menganalisis kualitas aktiva produktif secara cermat tidaklah kalah pentingnya. Kualitas aktiva produktif bank yang sangat jelek secara implisit akan menghapus modal bank. Walaupun secara riil bank memiliki modal yang cukup besar, apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja kondisi modalnya menjadi buruk pula. Hal ini antara lain terkait dengan berbagai permasalahan seperti pembentukan cadangan, penilaian asset, pemberian pinjaman kepada pihak terkait, dan sebagainya.

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas asset antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

  1. aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan total aktiva produktif
  2. debitur inti kredit di luar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit
  3. perkembangan aktiva produktif bermasalah/non performing asset dibandingkan dengan aktiva produktif
  4. tingkat kecukupan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP)
  5. kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif
  6. sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif
  7.  dokumentasi aktiva produktif dan kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

c. Manajemen (Management)

Manajemen atau pengelolaan suatu bank akan menentukan sehat tidaknya suatu bank. Mengingat hal tersebut, maka pengelolaan suatu manajemen sebuah bank mendapatkan perhatian yang besar dalam penilaian tingkat kesehatan suatu bank diharapkan dapat menciptakan dan memelihara kesehatannya.

Penilaian faktor manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan terhadap bank yang bersangkutan. Penilaian tersebut dilakukan dengan mempergunakan sekitar seratus kuesioner yang dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu kelompok manajemen umum dan kuesioner manajemen risiko. Kuesioner kelompok manajemen umum selanjutnya dibagi ke dalam sub kelompok pertanyaan yang berkaitan dengan strategi, struktur, sistem, sumber daya manusia, kepemimpinan, budaya kerja. Sementara itu, untuk kuesioner manajemen risiko dibagi dalam sub kelompok yang berkaitan dengan risiko likuiditas, risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum dan risiko pemilik dan pengurus.

Penilaian terhadap faktor manajemen antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

1)      manajemen umum;

2)      penerapan sistem manajemen risiko; dan

3)      kepatuhan Bank terhadap ketentuan yang berlaku serta komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.

d. Rentabilitas (Earnings)

Salah satu parameter untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank adalah kemampuan bank untuk memperoleh keuntungan. Perlu diketahui bahwa apabila bank selalu mengalami kerugian dalam kegiatan operasinya maka tentu saja lama kelamaan kerugian tersebut akan memakan modalnya. Bank yang dalam kondisi demikian tentu saja tidak dapat dikatakan sehat.

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor rentabilitas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut :

1)      Return on Assets (ROA);

2)      Return on Equity (ROE);

3)      Net Interest Margin (NIM);

4)      Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional (BOPO);

5)      Perkembangan laba operasional;

6)      Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan;

7)      Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya dan Prospek laba operasional.

e. Likuiditas (Liquidity)

Penilaian terhadap faktor likuiditas dilakukan dengan menilai dua buah rasio, yaitu rasio Kewajiban Bersih Antar Bank terhadap Modal Inti dan rasio Kredit terhadap Dana yang Diterima oleh Bank. Yang dimaksud Kewajiban Bersih Antar Bank adalah selisih antara kewajiban bank dengan tagihan kepada bank lain. Sementara itu yang termasuk Dana yang Diterima adalah Kredit Likuiditas Bank Indonesia, Giro, Deposito, dan Tabungan Masyarakat, Pinjaman bukan dari bank yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan (tidak termasuk pinjaman subordinasi), Deposito dan Pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan, dan surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan.

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuiditas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

1)      aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan pasiva likuid kurang dari 1 bulan;

2)      1-month maturity mismatch ratio;

3)      Loan to Deposit Ratio (LDR);

4)      proyeksi cash flow 3 bulan mendatang;

5)      ketergantungan pada dana antar bank dan deposan inti;

6)      kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management/ALMA);

7)      kemampuan Bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya dan stabilitas dana pihak ketiga (DPK).

f. Sensitivitas terhadap risiko pasar (Sensitivity to Market Risk)

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap risiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

1)      Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga;

2)      Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) nilai tukar; dan

3)      Kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar.

2.6. Penghimpunan Dana Bank

2.6.1.        Faktor –faktor penghimpunan

  • Kepercayaan masyarakat kepada bank yang bersangkutan.
  • Expected rate of return oleh penyimpan lebih tinggi dari alternatif investasi lain.
  • Resiko penyimpanan dana.  Apabila sebuah bank  dapat memberikan tingkat kepastian yang tinggi atas dana masyarakat untuk dapat ditarik lagi sesuai waktu yang telah diperjanjikan, maka masyarakat semakin bersedia untuk menempatkan dananya di bank tersebut
  • Pelayanan yang diberikan oleh bank kepada penyimpan dana.  Pelayanan yang baik akan membuat penyimpan dana merasa dihargai, diperhatikan, dan dihormati, sehingga merasa senang untuk terus bertransaksi keuangan dengan bank tersebut. Pelayanan ini bisa berupa pelayanan dari petugas bank, pemberian hadiah, atau pemberian fasilitas yang lain.

2.6.2          Sumber  Penghimpunan Dana

Pada dasarnya suatu bank mempunyai empat alternatif untuk menghimpun dana  untuk kepentingan usahanya, yaitu  :

  • Dana sendiri
  • Dana dari deposan
  • Dana pinjaman
  • Sumber dana lain

a.Dana Sediri

Begitu pentingnya proporsi dana sendiri ini dibuktikan dengan adanya  ketentuan dari bank  sentral  yang mengatur  tentang proporsi proporsi minimal modal sendiri dibandingkan dengan total nilai Aktiva Tertimbang  Menurut Risiko (ATMR). Proporsi ini  lebih dikenal istilah rasio keukupan modal (capital adequacy ratio-CAR). Apabila CAR suatu bank terlalu rendah maka kemampuan bank tersebut untuk bertahan pada saat mengalami kerugian juga rendah. Modal sendiri akan lebih cepat habis untuk menutup kerugian, dan ketika kerugian telah melebihi modal sendiri maka kemampuan bank tersebut  untuk memenuhi kewajiban kepada masyarakat sangat diragukan.  Penurunan kemampuan ini sangat  mungkin untuk menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut, dan penurunan tingkat kepercayaan terhadap suatu bank ini selanjutnya sangat membahayakan   kelangsungan usaha bank itu.  Seperti halnya badan usaha lain penghimpunan dana sendiri ini atara lain dapat berupa modal disetor, dana dari penjualan saham di bursa efek, akumulasi laba ditahan, cadangan-cadangan, dan agio saham.

b. Dana dari Deposan

Pada dasarnya sumber dana dari masyarakat dapat berupa  giro (demand deposit), tabungan (saving deposit).  Dan deposito  berjangka (time deposit) yang berasal dari  nasabah perorangan atau badan.

1)      Giro

Giro yaitu simpanan yang penarikannya setiap saat dengan cek, bilyet, giro,  atau tunai.

Cek merupakan perintah tak bersyarat kepada bank untuk membayar sejumlah uang tertentu pada saat penyerahannya atas beban rekening penarik cek. Cek dapat ditarik atau diterbitkan oleh pemegang rekening giro (giran) atas unjuk atau atas nama dan tidak dapat dibatalkan oleh penarik kecuali cek tersebut dinyatakan hilang atau dicuri dengan bukti dari kepolisian. Jangka waktu pengunjukan agar mendapatkan pembayaran dari bank atas cek tersebut adalah selama 70 hari sejak tanggal penarikannya.

Bilyet Giro pada dasarnya merupakan perintah kepada bank untuk memindahbukukan sejumlah uang  atas beban rekening penarik pada tanggal tertentu kepada pihak tercantum dalam bilyet giro  tersebut dan bilyet giro dapat dibatalkan secara sepihak oleh penarik disertai dengan alasan pembatalan.

Jasa Giro merupakan suatu imbalan yang diberikan oleh bank kepada giran  atas sejumlah saldo gironya yang mengendap di bank. Jasa giro ini relative  lebih kecil apabila dibandingkan dengan simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito berjangka, karena memang tujuan nasabah yang memegang rekening giro bukan untuk memperoleh imbalan semacam bunga simpanan tersebut, melainkan untuk memperoleh berbagai fasilitas yang dimiliki oleh rekening giro. Fasilitas ini adalah adanya alat pembayaran yang efisien berupa cek dan bilyet giro  serta  penarikan yang dapat dilakukan sewaktu waktu. Oleh karena itu, giran umumnya adalah pengusaha atau pihak yang memiliki kegiatan yang membutuhkan alat pembayaran dalam bentuk cek dan bilyet giro. Apabila ditinjau dari sudut pandang bank, dana yang berasal dari giro ini merupakan dana murah, dalam pengertian bank harus memberikan jasa giro yang relative lebih rendah dibandingkan bunga simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito berjangka.

2)      Deposito Berjangka

Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat  dilakukan pada waktu tertentu sesuai  tanggal yang diperjanjikan antara deposan dan bank. Mengingat simpanan ini hanya dapat dicairkan pada saat jatuh tempo oleh pihak yang namanya tercantum dalam  bilyet deposito sesuai tanggal jatuh temponya, maka deposito berjangka ini merupakan simpanan atas nama dan bukan atas unjuk.  Apabila deposan menghendaki agar deposito berjangkanya diperpanjang secara otomatis, maka pihak bank dapat memberikan fasilitas perpanjangan otomatis (automatic roll-over-ARO) atas deposito berjangka tersebut.

3)      Tabungan

Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat tertentu  yang disepakati, dan tidak dengan cek atau bilyet giro atau alat lain yang dapat dipersamakan dengan itu. Cara penarikan rekening tabungan yang paling banyak digunakan  saat ini adalah dengan buku tabungan, cash card atau kartu ATM,dan kartu debet. Ditinjau  dari segi keluwesan penarikan dana, simpanan dalam bentuk tabungan ini berada di tengah-tengah  antara giro dan deposito berjangka. Tabungan dapat ditarik dengan cara-cara dan dalam waktu yang relative lebih fleksibel deibanding dengan deposito berjangka, namun masih kalah fleksibel apabila dibandingkan dengan rekening giro..

4)      Cara lain penghimpun dana dari deposan

Persaingan yang ketat dalam penghimpunan dana antarbank telah memunculkan produk produk baru dalam penghimpunan dana. Produk produk baru  antara lain:

  • Sertifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpannya dapat diperjualbelikan. Agar simpanan ini dapat diperjualbelikan dengan mudah maka penarikan pada saat jatuh tempo dapat dilakukan atas unjuk, sehingga siapa  yang memegang bukti simpanan tersebut dapat menguangkannya pada saat jatuh tempo. Hal lain yang menjadi ciri dari sertifikat deposito dalam hal pembayaran bunganya. Apabila deposito berjangka bunga dibayarkan setelah dana mengendap, maka bunga dari sertifikat deposito ini dibayarkan di muka yaitu pada saat nasabah menempatkan dananya dalam bentuk deposito.

 

  • Deposit on call adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan pemberitahuan lebih dahulu dalam jangka waktu tertentu  sesuai dengan kesepakatan antara pihak bank dengan nasabah. Semakin besar dana yang akan ditarik biasanya semakin lama pula jangka waktu pemberitahuan sebelumnya yang diinginkan oleh pihak bank.  Tingkat bunga biasanya ditetapkan lebih rendah daripada tingkat bunga deposito berjangka dan lebih tinggi daripada jasa giro. Deposit on call biasanya digunakan oleh nasabah  yang tidak setiap saat perlu menarik dananya dan keperluan penarikan dana itu dapat diprediksi oleh nasabah dalam jangka waktu tertentu.

 

  • Rekening giro terkait tabungan. Ditinjau dari tingkat bunganya, nasabah lebih menyukai tabungan,  namun  ditinjau dari cara penarikannya nasabah cenderung lebih menyukai rekening giro. Nasabah cenderung untuk mempertahankan saldo rekening giro serendah mungkin sepanjang dapat memenuhi kebutuhan transaksinya. Setiap kali saldo rekening giro ini menjadi terlalu kecil maka nasabah akan memindahkan sebagian dana tabungannya ke rekening giro dan sebaliknya bila saldo rekening giro ini dipandang lebih besar daripada kebutuhan transaksinya, maka nasabah akan memindahkan sebagian saldo rekening giro ke rekening tabungannya.

 

c. Dana Pinjaman

Dana pinjaman yang diperoleh bank dalam rangka menghimpun dana antara lain  dapat berupa:

1)      Call money

Call money  merupakan sumber dana yang dapat diperoleh bank berupa  pinjaman jangka pendek dari bank lainmelalui interbank call money market .  Sumber dana ini sering digunakan oleh bank untuk  memenuhi kebutuhan dana mendesak dalam jangka pendek, seperti bila terjadi kalah kliring atau adanya penarikan dana besar-besaran oleh para deposan (rush).

2)      Pinjaman antarbank

Kebutuhan pendanaan kegiatan usaha suatu bank dapat juga diperoleh dari pinjaman jangka pendek dan menengah dari  bank lain. Berbeda dengan call money seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, pinjaman ini dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan dana mendesak dalam jangka pendek, melainkan untuk memenuhi suatu kebutuhan dana yang lebih terencana dalam rangka pengembangan  usaha atau meningkatkan penerimaan bank.

3)      Kredit Likuiditas Bank Indonesia

Sesuai namanya, Kredit Likuiditas Bank Indonesia  (KLBI) adalah kredit yang diberikan  oleh Bank Indonesia terutama kepada bank yang sedang mengalami kesulitan likuiditas. Masalah kesulitan likuiditas ini bisa terjadi   karena kalah kliring atau adanya penarikan dana besar-besaran oleh para deposan (rush). Untuk kepentingan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sector perbankan secara umum , maka BI akan berusaha  memberikan batuan likuiditas kepada bank tersebut sepanjang masih memungkinkan untuk ditolong.  Pada masa sebelum deregulasi perbankan, dana ini banyak digunakan BI untuk membiayai proyek atau program pemerintah  tertentu dan bukan untuk mengatasi kesulitan likuiditas suatu bank. Setelah adanya deregulasi, penggunaan dana KLBI untuk keperluan nonkesulitan likuiditas secara bertahap mulai dikurangi.

d. Sumber Dana Lain

Selain dapat berasal dari dana sendiri, dana dari deposan, dan peminjam, sumber penghimpunan dana juga dapat berasal dari sumber-sumber lain yang tidak dapat digolongkan dalam jenis dana di atas. Sumber dana yang lain ini selalu berkembang sesuai dengan perkembangan  usaha perbankan dan perekonomian secara umum. Sumber-sumber  tersebut antara lain:

1)      Setoran Jaminan

Setoran  jaminan atau sering disingkat storjam merupakan sejumlah dana yang wajib diserahkan oleh nasabah yang menerima jasa-jasa tertentu dari bank. Jasa-jasa yang biasanya memerlukan storjam antaralain adalah Letter of Credit (LC) dan Bank Garansi (BG).

2)      Dana Transfer

Salah satu jasa yang diberikan bank adalah pemindahan dana . Pemindahan dana bisa  berupa pemindah bukuan antar rekening, dari uang tunai ke suatu rekening, atau dari suatu rekening  untuk kemudian ditarik tunai. Sebelum dana transfer ini ditarik oleh penerima transfer atau selama masih mengendap di bank, dana ini dapat  digunakan oleh bank untuk mendanai kegiatan usahanya.

3)      Surat Berharga Pasar Uang

Salah satu akibat adanya serangkaian paket deregulasi perbankan sejak tahun 1980-an adalah diperkenalkannya Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) sebagai salah satu instrument yang dipergunakan pihak bank untuk menghimpun dana. SBPU merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang dapat diperjualbelikan dengan cara didiskonto oleh Bank Indonesia. Pada saat suatu bank mempunyai kelebihan likuiditas, bank tersebut dapat membeli berbagai semacam SPBU, dan menjualnya kembali pada saat mengalami kekurangan likuiditas.

4)      Diskonto Bank Indonesia

Fasilitas diskonto adalah penyediaan dana jangka pendek oleh BI dengan cara pembeliaan promes yang diterbitkan  oleh bank-bank atas dasar  diskonto. Fasilitas diskonto ini merupakan upaya terakhir bank dan merupakan bantuan bank sentral sebagai lender of last resort, Fasilitas diskonto ini dapat dibagi dua yaitu  fasilitas diskonto yang diberikan dalam rangka memperlancar pengaturan dana bank sehari-hari dan fasilitas diskonto yang diberikan untuk memudahkan bank dalam menanggulangi kesulitan pendanaan karena rencana pengerahan dana tidak sesuai dengan penarikan kredit jangka menengah atau jangka panjang oleh nasabah (mismatch).

2.7. Penyaluran Dana

Kegiatan Pengalokasian Dana

Pengalokasian dana à menyalurkan kembali dana yang telah dihimpun kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk pinjaman à KREDIT (prinsip konvensional), PEMBIAYAAN (prinsip Syariah)

 2.7.1         Penggunaan Dana Bank

Dana yang berhasil dihimpun oleh bank justru akan menjadi beban apabila dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha alokasi untuk tujuan-tujuan yang produktif. Dana yang telah dihimpun bukanlah dana yang semuanya murah tapi sebagian besar adlah dana dari deposan yang menimbulkan kewajiban bagi bank untuk membayar imbal jasa berupa bunga. Berdasarkan kebutuhan itu dan juga untuk memperoleh penerimaan bank dalam rangka menutup biaya-biaya lain serta mendapatkan keuntungan, maka bank berusaha mengalokasikan dananya dalam berbagai bentuk aktiva dengan berbagai macam pertimbangan.

2.7.2          Pertimbangan penggunaan dana

Sebelum bank memutuskan untuk memilih suatu bentuk aktiva tertentu dalam pengalokasian dana yang telah berhasil dihimpun, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Dalam pertimbangan tersebut terdapat tiga hal utama yang selalu menjadi perhatian bank yaitu risiko,hasil,dan jangka waktu.
1. Risiko dan hasil

Pada dasarnya bank menginginkan bentuk aktiva yang berisiko serendah mungkin namun dapat menghasilkan penerimaan atau rate of return setinggi mungkin.
2. Jangka waktu dan likuiditas

Dana yang telah berhasil dihimpun oleh bank menyangkut berbagai macam jangka waktu pengembaliannya. Di samping itu, bank juga memerlukan barbagai bentuk aktiva disesuaikan dengan keperluan kegiatan usahanya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, bank memilih berbagai macam bentuk aktiva dengan memprtimbangkan jangka waktu aktiva tersebut dapat dijadikan alat likuid.

2.7.3          Alternatif penggunaan dana

Secara lebih rinci, alokasi dari dana yang telah berhasil dihimpun oleh bank dapat dalam bentuk-bentuk berikut ini :

a)      Cadangan likuiditas sesuai dengan namanya, aktiva ini terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek. Sebagai konsekuensinya, risiko dari aktiva ini tergolong rendah dan bank tidak dapat terlalu banyak mengharapkan adanya penerimaan dalam jumlah yang tinggi dari aktiva ini, bahkan kadang-kadang aktiva ini disebut aktiva yang tidak produktif(idle fund). Cadangan likuiditas ini terdiri atas dua kategori,yaitu:

  1. Cadangan primer (primary reserves)
  2. Cadangan sekunder

b)      penyaluran kredit adalah penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi kewajibannya setelah jangka waktu tertentu.

c)      investasi alokasi dana pada aktiva dengan rate of return yang cukup tinggi selain dapat berupa penyaluran kredit, dapat juga berupa investasi. Investasi dapat berupa penanaman dana dalam surat-surat berharga jangka menengah dan panjang, atau berupa penyertaan langsung pada badan usaha lain.
Seperti halnya penyaluran kredit, karena rate of return dari aktiva ini relatif tinggi atau dengan kata lain investasi ini tergolong aktiva produktif, maka aktiva ini juga mengandung risiko yang relatif lebih tinggi juga dibandingkan cadangan primer dan sekunder.

d)      aktiva tetap dan inventoris aktiva tetap dan inventoris tergolong sebagai aktiva yang tidak produktif dalam menghasilkan penerimaan dan oleh bank indonesia dipandang sebagai aktiva yang resikonya cukup tinggi. Risiko ini dikaitkan dengan kemungkinan rusak, terbakar, atau hilangnya dari aktiva tetap dan inventaris.

2.8. Jasa-Jasa Bank

Jasa-jasa bank : kegiatan perbankan yang dilakukan oleh suatu bank untuk  memperlancar kegiatan menghimpun dana dan menyalurkan dana. Bank melaksanakan jasa tidak hanya untuk menarik perhatian nasabah semata-mata, namun juga untuk mencari keuntunagn yang disebut denganfee based.

Jasa perbankan bertujuan untuk menyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah. Bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi. Dengan menerima tabungan dari nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik, ekonomi suatu negara akan meningkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman.

2.8.1. Kliring

Kliring adalah suatu cara penyelesaian utang-piutang dalam bentuk warkat atau surat-surat berharga antara bank-bank peserta kliring di suatu tempat tertentu. Dengan mekanisme kliring penyelesaian utang-piutang antara bank-bank peserta kliring dipermudah, dipercepat, dan lebih efisien. Proses pelaksanaan kliring dilaksanakan oleh lembaga kliring Bank Indonesia dengan menyediakan tempat pertemuan antara bank-bank peserta. Warkat-warkat kliring antara lain adalah cek, bilyet, CD, nota debet, dan nota kredit.

2.8.1.1       Persiapan Kliring

Secara teknis pelaksanaannya, kliring dapat diuraikan sebagai kegiatan perhitungan utang piutang di antara beberapa lembaga keuangan peserta kliring secara terpusat dengan cara saling menyerahkan warkat kliring untuk memperluas lalu lintas pembayaran dengan cara giral. Warkat yang dapat ikut diperhitungkan dalam proses kliring domestik di Indonesia (bukan antar Negara) antaralain adalah :

a)      Cek

b)      Bilyet Giro

c)      Surat bukti penerimaan transfer

d)      Wesel bank untuk transfer kredit.

Semua warkat tersebut harus dinyatakan dalam mata uang rupiah, bernilai nominal penuh (100% dari face value), dan telah jatuh tempo. Penarikan cek melalui kliring atas beban dana yang berasal dari cek lain melalui kliring pada hari yang sama atau cross clearing tidak diperbolehkan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia bertangguang jawab untuk menyelenggarkan kliring antar bank dalam surat wilayah kliring. Penyelenggaraan kliring dibagi dalam wilayah-wilayah kliring karena sampai dengan saat ini memang tidak dimungkinkan untuk menyelenggarakan kliring nasional secara terpusat di satu tempat. Suatu Wilayah kliring dibentuk atas pertimbangan :

a)      Geografis, bank-bank peserta dalam suatu wilayah kliring harus memungkinkan untuk mengirimkan wakilnya mengikuti kliring yang dilaksanakan setiap hari kecuali hari libur, baik kliring penyerahan maupun kliring retur.

b)      Ekonomis, bank-bank yang secara ekonomis mempunyai keterkaitan dalam teransaksi-transaksi perbankan cenderung untuk dimasukkan dalam satu wilayah kliring tertentu.

c)      Apabila pada suatu wilayah tidak terdapat kantor Bank Indonesia sebagai penyelenggaraan kliring, maka penyelenggaraan kliring diserahkan kepada bank yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. Bank yang ditunjuk ini harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain mengenai kemampuan adaministrasi, tenaga pimpinan dan pelaksana, ruangan kantor, menyampaikan laporan kliring ke Bank Indonesia, dan peralatan komunikasi.

Bank yang termasuk sebagai peserta kliring adalah bank umum yang berada dalam wilayah kliring tertentu dan tidak dihentikan kepesertaanya dalam kliring oleh Bank Indonesia. Sebuah bank dapat dilarang untuk mengikuti kliring karena bebagai alasan. Pada dasarnya alasan tersebut berkenaan dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan.

Kliring diselenggarakan setiap hari kerja, sedangkan pertemuan kliring diadakan dua kali sehari yang jadwalnya ditetapkan oleh penyelenggara. Jika salah satu peserta kliring karena suatu hal tidak dapat turut serta dalam kliring, peserta tersebut wajib mengajukan permohonan pada penyelenggara kliring sepuluh hari sebelumnya. Alasan permohonan pengunduran diri antara lain :

a)      Kesulitan keuangan sehingga tidak dapat memenuhi syarat-syarat ikut kliring.

b)      Masalah dalam kepengurusan seperti perselisihan dan lain-lain.

Bila permohonan telah disetujui maka peserta yang bersangkutan diwajibkan mengemukakan hal tersebut dalam surat kabar yang mempunyai peredaran yang luas di tempat tersebut. Penyelenggara akan mengemukakan hal tersebut pada peserta dua hari kerja sebelum hari efektif bank bersangkutan tidak ikut kliring. Hal ini dikecualikan untuk kejadian yang sifatnya force majeur, seperti misalnya bencana alam, kebakaran, pemogokan, sabotase, dan lain-lain.

Ada dua macam penyertaan dalam kliring, yaitu :

a)      Penyertaan langsung, yaitu perhitungan warkat secara langsung dalam pertemuan kliring, dan yang dapat ikut dalam penyertaan langsung adalah kantor Bank Indonesia dan kantor pusat bank umum beserta kantor-kantor cabangnya.

b)      Penyertaan tidak langsung, yaitu perhitungan warkat dalam pertemuan kliring oleh suatu kantor bank melalui kantor pusat dari bank tersebut atau melalui salah satu kantor cabang yang lain. Penyertaan tidak langsung ini bisa terjadi karena berbagai hal, antra lain apabila suatu bank mempunyai masalah untuk ikut kliring secara langsung, maka dapat menjadi peserta secara tidak langsung. Masalah bisa berkaitan dengan keuangan, jarak antara bank yang bersangkutan dengan penyelenggara kliring, dan lain-lain.

Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu kantor bank umum agar dapat menjadi peserta kliring yaitu :

  1. Suatu kantor bank umum diwajibkan ikut serta dalam kliring, setelah mendapat persetujuan Bank Indonesia.
  2. Mempunyai izin usaha yang sah.
  3. Keadaan administrasi dan keuangan memungkinkan bank itu untuk memenuhi kewajibannya dalam kliring.
  4. Simpanan masyarakat dalam bentuk giro dan kelonggaran tarik kredit yang diberikan oleh kantor tersebut telah mencapai sekurang-kurangnya 20% dari syarat modal disetor minimum bagi pendirian bank baru di wilayahnya.
  5. Menyetor jaminan kliring sebesar 50% rata-rata kewajiban 20 hari terakhir dikurangi 40% rata-rata tagihan harian 20 hari terakhir. Kewajiban ini hanya berlaku bagi kantor bank yang baru menjadi peserta kliring atau yang baru direhabilitasi. Jaminan kliring ini berlaku selama 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal penyetoran. Kewajiban menyetor jaminan kliring ini tidak berlaku bagi peserta tidak langsung atau peserta yang pindah wilayah kliring.
  6. Bank peserta menunjuk beberapa orang wakil tetap pada lembaga kliring. Pemberitahuan mengenai wakil tetap ini disampaikan secara tertulis kepada Bank Indonesia dengan dilampiri contoh tanda tangan dan paraf dari wakil-wakil tersebut. Wakil ini terdiri atas :
  7. Golongan A, hanya berwenang untuk membuat, mengubah, memberikan tanda terima, dan menandatangani daftar rekapitulasi, neraca dan bilyet saldo kliring.
  8. Golongan B, di samping melaksanakan yang dilakukan golongan A, golongan ini juga berwenang untuk mengubah, menambah, dan menandatangani surat penolakan.

2.8.1.2 Mekanisme Kliring

Pertemuan kliring dilakukan dalam dua tahap yaitu :

  1. Kliring Penyerahan. Kegiatan yang dilakukan dulu sebelum kliring penyerahan adalah :
  2. Warkat dicap yang memuat sebutan “kliring” dan dicantumkan nomor kode kelompok peserta.
  3. Persetujuan penyelenggara dan peserta lain.

Langkah-langkah selanjutnya adalah sebagai berikut :

  1. Warkat-warkat dikelompokkan sesuai peserta. Warkat-warkat tersebut dapat digolongkan menjadi :
    1. Warkat kliring yang diserahkan oleh masing-masing peserta, yaitu :

i.      Nota Debet Keluar, yaitu warkat yang disetorkan oleh nasabah suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah tersebut.

ii.      Nota Kredit Keluar, yaitu warkat pembebanan ke rekening nasabah yang menyetorkan untuk keuntungan rekening nasabah bank lain.

  1. Warkat kliring yang diterima dari peserrta lain, yaitu :

i.      Nota Debet Masuk, yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain atas beban nasabah bank yang menerima warkat.

ii.      Nota Kredit Masuk, yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain untuk keuntungan nasabah bank yang menerima warkat.

  1. Warkat debet dan kredit dirinci nilai nominalnya dalam suatu daftar.
  2. Nilai nominal dan banyaknya warkat dalam daftar kliring dijumlahkan.
  3. Serah terima warkat kliring yang telah ditandatangani oleh wakil peserta kliring.
  4. Apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai dapat tidaknya warkat diperhitungkan dalam kliring, maka keputusan terakhir diserahkan kepada penyelenggara.
  5. Penyusunan neraca kliring penyerahan yang ditandatangani dan dibubuhi nama peserta dengan jelas.
  6. Wakil peserta kliring kembali ke bank masing-masing untuk menentukan layak tidak-nya warkat-warkat yang diterima dari bank lain untuk diselesaikan.
  7. Kemungkinan-kemungkinan penyelesaina warkat-warkat tersebut antra lain adalah :
    1. Warkat debet dapat diselesaikan oleh masing-masing peserta apabila warkat tersebut memenuhi syarat dan dananya cukup. Warkat kredit dapat diselesaikan setelah diteliti terhadap kemungkinan kesalahan.
    2. Warkat debet yang ditolak Karena tidak memenuhi persyaratan di atas akan dikembalian kepada peserta yang mengajukan saat kliring retur nantinya.
    3. Penolakan disertai dengan surat Keterangan penolakan (SKP) yang berisi alasan-alasan penolakan warkat sesuai ketentuan. Warkat asli diserahkan kepada peserta yang mengkliringkan dan tembusan pada nasabah penyetor serta pada penyelenggara.
    4. Warkat yang diduga ada kaitan dengan kejahatan harus ditahan dan dikonfirmasikan dengan polisi.

2.8.1.3       Kliring Retur

Setelah warkat dikembalikan kemudian dikelompokkan menurut peserta dan dicatat dalam daftar kliring retur lengkap dengan nilai nominalnya. Daftar kliring retur ini beserta warkat-warkatnya diserahkan kepada wakil peserta kliring. Setelah dilakukan serah terima warkat dalam kliring retur, lalu disusun neraca kliring retur.

Penyelenggara selanjutnya menyusun neraca gabungan peserta. Berdasarkan neraca kliring penyerahan dan neraca kliring retur dibuat bilyet saldo kliring yang memuat hasil akhir kliring. Apabila hasil penjumlahan, hak penerimaan tagihan lebih besar daripada penjumlahan kewajiban pembayaran tagihan, maka bank tersebut menang kliring. Demikian pula sebliknya, apabila hasil penjumlahan hak penerimaan tagihan lebih kecil daripada penjumlahan kewajiban pembayaran tagihan, maka bank tersebut kalah kliring. Apabila masing-masing saldo kliring peserta sudah diselesaikan dan neraca gabungan telah seimbang, maka kliring telah selesai. Jika bank tersebut menang kliring, berarti simpanan giro bank tersebut di Bank Indonesia menjadi bertambah, sebaliknya akan berkurang apabila bank tersebut kalah kliring.

2.8.2. Inkaso (Jasa Penagihan)

Bank dapat memberikan jasa penagihan kepada nasabah atas warkat-warkat kliring yang dimilikinya termasuk warkat-warkat yang diterbitkan oleh pihak atau bank yang berada di luar wilayah kliring bank yang memberikan jasa penagihan. Penagihan yang dilakukan oleh bank atas suatu warkat kliring dengan perintah nasabahnya disebut inkaso.

Inkaso akan memberikan kemudahan dan keamanan nasabah dalam menguangkan warkat-warkatnya. Misalnya, nasabah yang memiliki warkat yang diterbitkan oleh suatu bank, tidak perlu ia sendiri melakukan penagihan kepada bank persero yang mungkin jaraknya relatif jauh, tetapi akan lebih efisien dan aman kalau hanya diserahkan kepada bank untuk selanjutnya dilakukan penagihan melalui mekanisme kliring inkaso dapat dilakukan oleh bank baik dalam negeri maupun luar negeri dengan menggunakan jasa bank koresponden.

2.8.3. Letter of Credit

Letter of Credit atau lebih umum disingkat L/C pada prinsipnya adalah suatu fasilitas atau jasa yang diberikan kepada nasabah dalam rangka mempermudah dan memperlancar transaksi jual beli barang terutama yang berkaitan dengan transaksi internasional. Bank yang memberikan L/C kepada nasabah berarti bank yang bersangkutan memberikan jaminan untuk membayar sejumlah tertetu kepada pihak lain atas permintaan nasabahnya.

Dalam perdagangan sering terjadi bahwa pembeli dan penjuala dibatasi oleh jarak yang berjauhan bahkan berlainan pulau atau negara. Dalam kondisi tersebut timbul permasalahan dalam hal penyelesaian transaksi jual beli barang. Karena dipisahkan oleh jarak yang jauh tadi, transaksi tunai jelas sulit dilakukan. Permasalahan tersebut akan timbul yaitu siapa yang pertama-tama akan melakukan tindakan. Pembeli tentu akan merasa khawatir apabila ia membayar atau mengirimkan lebih dahulu uang sebelum barang tersebut sampai di alamatnya. Sebaliknya, penjual tidak bersedia melepas barangnya sebelum ada kepastian pembayaran dari pembeli atas barangnya tersebut. Kedua belah pihak memiliki alasan kekhawatiran terhadap risiko kerugian apabila di antaranya ternyata ada yang tidak memenuhi kewajibannya. Untuk menyelesaikan dilema yang dihadapi antara penjual dan pembeli ini, bank dapat menjadi pihak ketiga yang memberi jasa keperantaraan dengan memberi jaminan kepada pihak penjual atau eksportir dan pembeli atau importir.

Dokumen yang dibutuhkan dalam suatu transaksi L/C di atas sekurang-kurangya meliputi hal-hal seebagai berikut:

  1. Konosemen atau bill of lading yaitu dokumen pengapalan yang di dalamnya dijelaskan mengenai nama pengiriman (shipper), pihak yang berhak atas barang (consignee), pihak yang diberitahukan atas kedatangan barang dan nama perusahaan pelayaran yang mengangkut barang (carrier). Untuk barang yang dikirim lewat udara dokumen ini disebut airway cill.
  2. Wesel
  3. Faktur
  4. Asuransi: Free on Board (FOB), Cost and Freight (C&F) dan Cost, Insurance and Freight (CIF)
  5. Daftar Pengepakan
  6. Surat Keterangan Asli Barang
  7. Sertifikat Pemeriksaan dari Surveyor yang Independen

2.8.4. Bank Garansi

Bank garansi adalah jaminan yang diberikan oleh bank atas permintaan nasabah untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak lain apabila nasabah yang bersangkutan tidak memenuhi kewajibannya. Bank garansi yang diterbitkan oleh suatu bank merupakan pernyataan tertulis untuk mengikatkan diri kepada penerima jaminan apabila dikemudian hari pihak terjamin tidak memenuhi kewajibannya kepada penerima jaminan sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang lebih ditentukan. Oleh karena itu dalam mekanisme bank garansi terdapat tiga pihak yang terkait yaitu bank sebagai penjamin, terjamin yaitu nasabah atas permintaan penerimaan jaminan. Bank dalam pemberian garansi ini, biasanya meminta setoran jaminan yang besarnya misalnya 10%-30% dari total nilai obyek yang dijamin. Di samping itu bank memungut provisi dan mengenakan bunga atas jumlah nilai jaminan.

2.8.5. Transfer

Transfer merupakan jasa bank yang banyak dimanfaatkan oleh nasabah. Transfer dapat dilakukan untuk pengiriman uang baik dalam negeri maupun luar negeri. Transfer tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya, transfer dengan telex, mail transfer, telepon dan telegraph dan lain sebagainya. Mekanisme transfer dapat dilakukan dengan menggunakan bank koresponden apabila di daerah tersebut bank yang bersangkutan tidak memiliki cabang. Instrumen yang digunakan dalam mekanisme transfer dalam suatu wilayah kliring biasanya adalah lalu lintas giral (LLG) dengan menerbitkan nota kredit.

Dengan perkembangan teknologi, memasuki decade 80-an, electronic transfer banyak digunakan oleh bank untuk member kemudahan nasabah dalam menlakukan transaksi. Pesatnya perkembangan electronic transfer ini disebabkan semakin banyaknya bank menggunakan sistem online. Dengan online system tersebut, nasabah dapar melakukan transfer kemana saja dalam bilangan waktu detik dan kapan saja ia ingin lakukan karena saat ini bank banyak memberika pelayanan 24 jam.

2.9. Kredit Bank

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan  persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (jika prinsip syari’ah dengan bagi hasil).

2.9.1.        Pinjaman Tunai (Cash Loan)

  1. Pengertian

Pemberian kredit, dalam pengertian sebagai

cash loan, merupakansalah satu bentuk usaha yang dapat dilakukan oleh sebuah bank. BerdasarkanUU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentangPerbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah penyediaan uang atau tagihanyang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan ataukesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yangmewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktutertentu dengan pemberian bunga. Penyediaan dana tidak hanya berbentuk kredit tetapi juga pembiayaan berdasar prinsip syariah

  1. Pertimbangan Penyaluran Dana

Hal-hal yang selalu ingin diketahui bank sebelum menyalurkan dananyadalam bentuk kredit maupun pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah :

a)       Perizinan dan legalitas

Bentuk-bentuk perizinan dan legalitas yang harus dipenuhi debitor sangatbervariasi tergantung pada bidang kegiatan atau usaha nasabah, antara lain :Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Angka Pengenal Eksportir Terbatas,Surat Izin Tempat Usaha, Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi, Sertifikat Tanah,Tanda Daftar Perusahaan.

b)  Karakter

Untuk menilai karakter suatu nasabah dan meramalkan perilakunya dimasayang akan datang, bank hanya dapat menggunakan beberapa indikator, antaralain adalah : Profesi, Penampilan, Lingkungan sosial, Pengalaman, Tindakanatau perilaku di masa lalu.

c)  Pengalaman dan manajemen

Pengalaman dan manajemen nasabah sangat memengaruhi kemampuannasabah untuk mengelola kegiatannya sehingga dapat menghasilkan danauntuk membayar kewajibannya kepada bank.

d)  Kemampuan teknis

Factor-faktor yang dapat memengaruhi kemampuan teknis nasabah dalammenjalankan kegiatannya adalah : Tersedianya bahan baku, Adanya tenagaahli, Ketersediaan mesin dan peralatan, Tempat usaha yang memenuhi syarat,Ketersediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan, Tingkat penguasaanteknologi.

e)  Pemasaran

Apabila nasabah tidak berhasil menjual produknya, nasabah akanmengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak bank.

f)  Sosial

Keberadaan kegiatan yang yang dibiayai oleh bank sedikit banyak pastimembawa dampak tertentu terhadap masyarakat. Pihak bank harus ekstra hati-hati apabila dampak yang ditimbulkan adalah sesuatu yang tidak disukai olehmasyarakat.

g)  Keuangan

Sehat dan tidak sehatnya keadaan usaha nasabah dapat dilihat salahsatunya melalui keadaan keuangannya, dan keadaan keuangan nasabah dapatdilihat melalui laporan keuangannya.

h)  Agunan

Sebenarnya agunan bukan factor utama penentu keputusan pemberi dana. Agunan ini meliputi :

1)Agunan utama

2)Agunan tambahan

2.9.2.        Jenis Kredit Atas Dasar Tujuan Penggunaan

Atas dasar tujuan penggunaan dananya oleh debitor, kredit dapat dibedakanmenjadi :

a)    Kredit Modal Kerja (KMK)

Kredit yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja nasabah.KMK biasanya berjangka pendek dan disesuaikan dengan jangka waktuperputaran modal kerja nasabah. Ditinjau dari jangka waktunya, KMK terdiriatas dua macam :

1)KMK-Revolving

Apabila kegiatan usaha debitor dapat diharapkan berlangsung secaraberkelanjutan dalam jangka panjang dan pihak bank cukup mempercayaikemampuan dan kemauan nasabah, maka fasilitas KMK nasabah dapat  diperpanjang setiap periodenya tanpa harus mengajukan permohonankredit baru hal ini disebut KMK- Revolving

2)KMK-Einmaleg

Fasilitas KMK ini hanya diberikan sebatas satu kali perputaran usahanasabah, dan apabila pada periode selanjutnya nasabah menghendakiKMK lagi maka nasabah harus mengajukan permohonan kredit baru.

b)  Kredit Investasi (KI)

Kredit yang digunakan untuk pengadaan barang modal jangka panjang untuk kegiatan nasabah. Seperti Aktiva Tetap contohnya mesin-mesin, gedung.

c)  Kredit Konsumsi

Kredit yang digunakan dalam rangka pengadaan barang atau jasa untuk tujuankonsumsi, dan bukan sebagai barang modal dalam kegiatan usaha nasabah

2.9.3.        Kolektibilitas Kredit

Setiap fasilitas kredit mempunyai tingkat kemungkinan realisasi pembayaranbunga dan pokok oleh debitor dan tingkat kolektibilitas yang berbeda-beda. Disamping menggunakan unsur-unsur kuantitatif, penentuan kolektibilitas juga dilakukan atas dasar pertimbangan subjektif ( judgement). Maka kualitaskredit digolongkan menjadi lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar,diragukan, dan macet. Menurut kriteria:

  • Prospek usaha (perlu juga memperhatikan upaya debitor dalam rangkamemelihara lingkungan hidup)
  • Kinerja performance debitor
  • Kemampuan membayar

2.9.4          Kredit kepada Usaha Kecil dan Mikro

  1. Pengertian

Kredit usaha kecil adalah kredit yang diberikan kepada nasabah usahakecil dengan kredit maksimum Rp 250 juta untuk pembiayaan usaha yangproduktif. Usaha yang produktif adalah usaha yang dapat memberikannilai tambah dalam menghasilkan barang dan jasa. Usaha kecil adalahusaha yang memiliki total asset maksimum asset Rp 600 juta tidak termasuk tanah dan bangunan yang ditempati.

  1. Karateristik Kredit kepada Usaha Kecil dan Mikro

Karakteristik kredit kepada usaha kecil dan mikro secara umum adalah :

1)      Memerlukan persyaratan penyerahan agunan yang lebih lunak

2)      Memerlukan metode monitoring kredit yang khusus

3)      Cenderung menimbulkan biaya pelayanan kredit yang lebih tinggi

4)      Memerlukan persyaratan persetujuan kredit yang lebih sederhana

  1. Kerja sama Pemberian Kredit Kepada Usaha Kecil dan Mikro

Dengan adanya kerja sama ini diharapkan tingkat penyaluran kredit kepadausaha kecil dan mikro dapat semakin besar dan luas. Kerja sama tersebut jugadapat dilakukan oleh bank umum dengan bank umum lainnya, Bank Perkreditan Rakyat atau lembaga pembiayaan. Berbagai macam alternatif bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan oleh bank dalam penyaluran kredit kepada usaha kecil dan mikro antara lain dapat berupa:

a) Pinjaman langsung dari bank umum kepada BPR

b) Pembiayaan bersama (point financing)

c) Penyaluran kredit(canneling)

d) Anjak piutang (factoring)

e) Penerbitan SPBU

2.9.5           Non Cash Loan

Yaitu sejenis kredit yang belum efektif dapat ditarik secara tunai ataupunsecara pemindahbukuan tetapi didalamnya telah terkandung adanya suatukesanggupan untuk melakukan pembayaran dikemudian hari. Pembayaran baruakan dilakukan oleh bank apabila transaksi yang akan dilakukan direalisir atauapa yang diperjanjikan menjadi efektif. Adapun jenis kredit non cash loan ini antara Bank Garansi, Pembukaan L/C impor dan Letter of credit dalam negeri.

2.9.6          Prinsip-prinsip Pemberian Kredit

Untuk dapat melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat telah dikenaladannya prinsip 5C yaitu:

  1. Character

Suatu keyakinan bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikankredit benar-benar dapat dipercaya yang tercermin dari latar belakang nasabah baik latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi.

  1. Capacity

Kemampuan nasabah dalam mengembalikan kredit yang diberikan.

  1. Capital

Yaitu jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon debitur. Semakin besar modal yang dimiliki seseorang atau perusahaan maka akan semakindipercaya untuk memperoleh kredit.

  1. Collateral

Merupakan jaminan yang diberikan oleh calon nasabah baik yang berupa fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebih jumlah kredit yang diberikandan diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah maka jaminanyang dititipkan dapat dipergunakan secepat mungkin.

  1. Condition

Dalam pemberian kredit hendaknya juga dinilai kondiri ekonomi dan politik sekarang dan dimasa yang akan datang sesuai sektor masing-masing, serta prospek dari sektor yang dijalankan.

2.9.7          Teknik Penyelesaian Kredit Macet

  1. Rescheduling:

a. Memperpanjang jangka waktu kredit

b. Memperpanjang jangka waktu angsuran

2.  Reconditioning:

Merubah berbagai persyaratan:

a. Kapitalisasi bunga, yaitu bunga dijadikan hutang pokok

b. Penundaan pembayaran bunga s/d waktu ttt

c. Penurunan suku bunga

d. Pembebasan bunga

3.  Restructuring

a. Menambah jumlah kredit

b. Menambah equity:

> Menyetor uang tunai

> Tambahan dari pemilik

  1. Kombinasi

Kombinasi dari ketiga jenis

  1. Penyitaan jaminan

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

Bank  merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.  Pada makalah ini kami pun membahas sub bab atau pokok bahasan yang berkaitan dengan  Manajem Bank, Jasa dan Pelayanan Bank seperti operasi bank, neraca bank , aktiva dan passiva, penghimpun dan penyaluran dana serta jasa dan pelayanan bank. Adapun sumber utama dana bank dalam usahanya menghimpun dana berasal dari simpanan dalam bentuk giro (demand deposit), deposito  berjangka (time deposit), dan tabungan (saving deposit). Ketiga jenis dana ini sering disebut sebagai sumber dana  tradisional bank. Sumber-sumber dana bank dalam bentuk simpanan tersebut dapat berasal  dari masyarakat maupun nasabah    Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus memanfaatkan badan usaha ini,dan bank juga harus bisa memegang kepercayaan masyarakat dengan cara mengelola menajemen bank itu sendiri dengan sebaik mungkin. Selain itu, keberhasilan  bank  dalam melakukan penghimpunan atau mobilisasi dana ini sangat dipengaruhi  beberapa  factor antara lain: pelayanan yang lebih cepat dan fleksibel serta  pengelolaan dana bank yang hati –hati akan mempengaruhi keberhasilan bank dalam menghimpun dana.

3.2. Saran

Semua bank sama baik negeri maupun swasta, tergantung dari bagaimana bank itu mengelola  dengan baik manajemen keuangan mereka sehingga  bank bisa mendapatkan keuntungan  yang telah ditargetkan. Bank wajib memiliki keamanan. Yang dimaksud keamanan disini yaitu jaminan keamanan oleh bank atas dana nasabah. Kepercayaan masyarakat pada suatu bank jelas akan mempengaruhi kemampuan bank menghimpun dana dari berbagai sumber terutama dari masyarakat/intuisi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum bank memutuskan untuk memilih suatu bentuk  aktiva tertentu dalam pengalokasian dana yang telah berhasil dihimpun. Meskipun pertimbangan tersebut mencakup banyak hal, terdapat tiga hal utama yang selalu menjadi perhatian bank. Ketiga hal tersebut adalah risiko, hasil, dan jangka waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan Edisi ke-5. Jakarta: FEUI

Sawitri, Peni dan Eko Hartanto. 2007. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta:  Universitas Gunadarma

Budi Santoso, Totok. 2003. Bank & Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat

Ahmad, Rafqi. (2004). Strategi Implementasi TI untuk Tata Kelola Organisasi (IT Governance). Dari http://rafqiachmat.blogspot.com/2011/05/penilaian-tingkat-kesehatan-bank-di.html, 24 Maret 2012

berikut saya lampirkan softfile-nya semoga dapat dijadikan referensi bagi pembaca

Manajemen Operasi dan Jasa-Jasa Bank Umum di Indonesia.pdf

About these ads

3 comments

  1. I’m very pleased to find this page. I need to to thank you for your time for this particularly fantastic read!! I definitely really liked every little bit of it and I have you saved to fav to look at new information on your web site.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s